Focus Group Discussion – Outlook Ekonomi Indonesia 2026
Selasa, 27 Januari 2026 bertempat di Auditorium Karawang Plant #3 PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia telah dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Outlook Ekonomi Indonesia 2026. Acara ini merupakan hasil kerja sama antara PUK TMMIN dengan Toyota Supply Chain Union Forum (T-SCUF). Selain dihadiri oleh Pengurus PUK TMMIN dan Pengurus T-SCUF, acara ini dihadiri juga oleh seluruh Anggota T-SCUF dari 34 Perusahaan dan PUK sahabat seperti PUK TAM, PUK ADM, dan PUK HPM. Dalam acara ini dihadirkan pula 2 narasumber yaitu Bapak Dr. M. Rizal Taufikurahman M.Si. dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dan Ibu Riani Rachmawati S.E., M.M., Ph.D. dari Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisinis Universitas Indonesia (LM FEB UI).

Bertindak sebagai pembawa acara yaitu Bung Endan AY sebagai Wakil Ketua Bid. Pendidikan dan Kaderisasi PUK TMMIN, beliau memaparkan susunan dan tujuan acara ini. Setelah rangkaian pembukaan (menyanyikan lagu kebangsaan dan berdoa), acara dilanjutkan dengan pemaparan background oleh Ketua PUK TMMIN, selain background, Bung Fajar menyampaikan harapan dan mengingatkan kembali tentang peran Serikat Pekerja. “peran Serikat Pekerja bukan hanya melindungi hak-hak Anggota dari sisi hulunya saja, seperti kompensasi saat anggota di-PHK, namun lebih jauh lagi, yaitu Serikat Pekerja harus berperan untuk melindungi Anggota dari sisi hilirnya dengan cara bersama-sama Perusahaan menjaga dan mempertahankan pekerjaannya (job secure)” pungkas beliau.

Beranjak ke agenda selanjutnya yaitu pemaparan materi dari narasumber pertama mengenai “Strategi Adaptif di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global”. Dalam tema tersebut, Bapak Dr. M. Rizal Taufikurahman M.Si. memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan:
- Proyeksi Makroekonomi Global dan Dinamika Kebijakan Nasional;
- Struktur Ekonomi, Sektor Penggerak, dan Ketahanan Dunia Usaha;
- Tren Produktivitas dan Daya Saing Nasional;
- Sustainability dan Strategi Adaptif Ditengah Ketidakpastian Ekonomi.
Di akhir pemaparannya, beliau menyimpulkan optimisme industri otomotif di Indonesia pada tahun 2026 dengan beberapa catatan diantaranya:
- Fokus ke pasar terjangkau (Sesuaikan produk dengan daya beli saat ini, yakni irit, fungsional, dan biaya cicilan ringan);
- Produksi harus fleksibel (volume dan stok menyesuaikan permintaan agar biaya tidak membengkak saat pasar melemah);
- Pembiayaan jadi penentu penjualan (DP rendah dan tenor fleksibel lebih efektif dari pada diskon harga).
- Hybrid sebagai solusi realistis (menjembatani transisi EV di tengah keterbatasan daya beli dan infrastruktur); dan
- Sebagai Serikat Pekerja harus tetap menjaga hubungan industrial di tengah penyesuaian bisnis Perusahaan dengan dibarengi dialog agar produktivitas naik tanpa gejolak tenaga kerja.

Pemaparan kedua disampaikan oleh Ibu Riani Rachmawati S.E., M.M., Ph.D. mengenai “Navigasi Strategi Serikat Pekerja Sektor Otomotif”. Beliau lebih menekankan pada diagnosa posisi Serikat Pekerja sebelum menentukan Strategic Planning dengan mengetahui Strategic Leverage (posisi tawar eksternal) dan Organizational Capacity (kesiapan internal). Adapun untuk mengukur/mengecek strategic leverage dapat dilihat dengan item-item sebagai berikut:
- Substitusi Skill (Apakah skill Anggota kita sulit digantikan oleh otomatisasi atau tenaga kerja baru?)
- Dampak Rantai Pasok (Jika pekerja perusahaan Anda mogok, seberapa cepat supply chain otomotif nasional lumpuh?)
- Ketergantungan Perusahaan (Apakah stabilitas tenaga kerja krusial bagi citra kualitas produk perusahan di tengah persaingan ketat?)
Sedangkan untuk mengukur/mengecek Organizational Capacity dapat dilihat dengan item-item diantaranya:
- Pemahaman Anggota (Apakah Anggota paham isu industri seperti efisiensi, EV, pasar global dll, atau hanya bergerak saat isu upah muncul?)
- Kualitas Dialog (Apakah pengurus mampu berunding menggunakan data ekonomi makro, bukan hanya emosi?)
- Regenerasi (Apakah kaderisasi berjalan?, Adakah pemimpin muda untuk 5 tahun kedepan?)
- Alokasi Sumber Daya (Berapa persen anggara/waktu untuk strategic planning vs firefighting kasus harian?).
Menurut beliau, dengan mengetahui posisi hasil diagnosa, Serikat Pekerja dapat mengatur porsi pergerakan di arena CORE, FUTURE, atau STRATEGIC yang ketiga arena tersebut harus tetap dilakukan sehingga Serikat Pekerja dapat menjaga DUAL COMMITMENT yaitu “Loyal Pada Organisasi” dengan tetap melindungi hak dan meningkatkan solidaritas Anggota dan juga “Peduli Pada Perusahaan” dengan memahami sustainability/keberlanjutan bisnisnya sehingga dapat melindungi pekerjaan jangka panjang dengan memastikan Perusahaan tetap kompetitif (competitiveness-driven growth) serta bersama Perusahaan dapat merubah konflik menjadi solusi produktif.

Masuk ke agenda selanjtutnya yaitu diskusi/ tanya jawab, agenda ini dipandu oleh Bung Joko sebagai Sekretaris Bid. Regulasi dan Kesejahteraan PUK TMMIN. Suasana pun terasa hidup karena banyaknya pertanyaan dari paserta. Di Akhir sesi, Bung Budi Darmanto sebagai Ketua T-SCUF menyampaikan wrap up diskusi yang pada intinya Serikat Pekerja harus mampu menyeimbangkan kebutuhan peningkatan kesejahteraan Anggota dengan tetap mempertimbangkan kondisi Perusahaan.
Penulis : Didi Suntana (PUK PT TMMIN)
